10/14/2018

Eks Kombatan Minta Pengembangan Kasus Rp 650 Miliar



Kasus Rp 650 Miliar

ACEHEks kombatan GAM mendesak Kejati Aceh mengusut tuntas kasus dugaan penyelewengan dana bantuan sosial (bansos) yang disebut-sebut untuk pemberdayaan eks kombatan GAM sebesar Rp 650 miliar yang bersumber dari APBA 2013.

Namun jika tidak terbukti ada, maka segera hentikan kasus itu. Jangan setiap pergantian Kajati Aceh, kasus dana Rp 650 miliar itu selalu diungkap ke publik, tapi tidak pernah tuntas meskipun penanganannya sudah lama.

650 Miliyar Seperti Dongeng

“Ini lucu, setiap pergantian Kajati ngomong 650 miliar, jelang pemilu 650 miliar, ada apa? Apa kasus 650 miliar ingin menjadikan bom waktu di Aceh, untuk mengadudombakan eks kombatan sesama eks kombatan,” kata eks kombatan, Fadli Abdullah alias Petrus kepada Serambinews.com, Sabtu (13/10/2018).

Petrus menyampaikan hal itu untuk menanggapi dua berita sebelumnya yang berkaitan dengan dana Rp 650 miliar.

Menurutnya, perkara itu hanya disampaikan ke masyarakat di saat pergantian pimpinan Kejati saja.

Sebelumnya diberitakan, Kajati Aceh yang lama, Chaerul Amir mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kasus dugaan penyelewengan dana bansos yang disebut-sebut untuk eks kombatan GAM sebesar Rp 650 miliar dari APBA 2013.

Ternyata, dana sebesar itu tidak masuk dalam dokumen Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) APBA tahun tersebut.

“Saya lihat dari sisi perencanaan, ternyata informasinya dana hibah sebesar 650 miliar rupiah itu tidak masuk dalam KUA PPAS. Ini yang kita gali, kenapa tidak masuk?” ungkap Chaerul Amir saat bersilaturahmi ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Jalan Raya Lambaro Km 4,5 Desa Meunasah Manyang, Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (11/10/2018).

Memang kasus ini sudah ditanggani Kejati sejak 24 Januari 2017 atas laporan LSM Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh atau saat Kejati Aceh dipimpin Raja Nafrizal.

650 Miliyar Bom Waktu

Kemudian, saat posisi Kajati beralih ke Chaerul Amir, kasus ini menjadi prioritas utama, namun hingga Chaerul Amir digantikan dengan Irdam, kasus tersebut belum tuntas.

Petrus menyatakan, pihaknya selaku mantan pejuang merasa tidak nyaman dengan kasus yang menyeret-nyeret nama eks kombatan.

Jika memang ada yang terlibat dalam perkara itu, lanjutnya, Kajati harus mengungkap ke publik, siapa saja namanya. Apakah eks kombatan yang pernah bergerilia di hutan atau eks kombatan setelah damai?
Dia merasa aneh dengan kasus itu. Sebab apabila penggelolaan dana diperuntukan bagi pemberdayaan eks kombatan, seharusnya dana tersebut ditempatkan pada Badan Reintegrasi Aceh (BRA) selaku badan yang menaungi eks kombatan, bukan tersebar di sebelas dinas.

Karena itu, Petru mendesak Kajati mengusut tuntas kasus itu.

“Kenapa bisa diperuntukan melalui dinas, kalau sudah diperuntukkan pada dinas berarti tidak ada urusan dengan eks kombatan,” tegasnya.

Penulis: Masrizal Bin Zairi